Rabu, 20 Juni 2012

PROPOSAL KESEHATAN


BAB I
PEMBAHASAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan Kesehatan di Indonesia diarahkan pada pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh umat manusia yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum sesuai  yang dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sebagai pelaku dari pada pelayanan pembangunan kesehatan adalah masyarakat maupun pemerintah, konsep pembangunan tersebut terkait dengan pembangunan kesehatan jasmani maupun kesehatan rohani. Kesehatan erat kaitannya dengan kesehatan hidup manusia,oleh sebab itu manusia melakukan berbagai upaya dalam mewujudkan kehidupanya menuju pencapaian derajat  kesehatan optimal.
Strategi pembangunan kesehatan nasional diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, minat dan kemampuan dari pendukungnya untuk hidup sehat,sehingga status derajat  kesehatan masyarakat harus semakin ditingkatkan. Sebagai sebuah negara yang besar dengan berbagai keaneka ragaman adat dan budaya,sudah tentu karakter dan kebiasaan akan pelayanan kesehatan yang dipilih ibu hamil  sangatlah beraneka ragam terutama dalam lingkup pedesaan.
Dengan demikian upaya penyediaan pelayanan kesehatan yang dimiliki masyarakatpun sangat  beragam, mulai dari pelayanan kesehatan medis modern maupun pelayanan kesehatan medis tradisional. Pelayanan kesehatan medis modern yaitu pelayanan kesehatan yang dilakukan berdasarkan pengetahuan ilmiah yang dilakukan oleh dokter atau bidan,sedangkan pelayanan kesehatan medis tradisional yaitu perwatan berdasarkan produk kebudayaan atau sistem pengetahuan masyarakat yang biasanya dilakukan oleh dukun. Sehingga dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan, komunikasi antara bidan desa dan dukun bayi sudah sewajarnya berjalan sesuai yang dengan diharapkan sebagai kader yang sama-sama berpotensi dalam melayani dan menangani kesehatan ibu hamil. Karena pengetahuan dan kepercayaan masyarakat tentang pelayanan kesehatan medis tradisional masih cukup kuat, pengetahuan  tersebut merupakan kebiasaan yang menjadi tradisi turun temurun dari generasi-kegenerasi, hingga sampai pada saat ini pelayanan kesehatan medis tradisional dan medis modern  masih terpelihara dalam lingkup pedesaan.
Pelayanan kesehatan yang dilakukan antara bidan desa dan dukun bayi dalam lingkup pedesaan merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari, sehingga bidan desa dan dukun bayi di pedesaan sudah di anggap memiliki kedudukan yang setara oleh masyarakat, artinya tugas dan kewenanangan akan pelayanan kesehatan yang diberikan kedua kader tersebut  berjalan seimbang dengan saling menghargai, memahami dan mengakui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sehingga dalam penerapanya tidak menimbulkan kesan persaingan.
Komunikasi yang baik dan berlangsung dengan kedudukan yang setara sangat diperlukan oleh kedua kader tersebut, baik oleh bidan kepada dukun maupun oleh bidan dan dukun kepada pasiennya, hubungan komunikasi yang baik sangatlah berpengaruh bagi kedua kader tersebut, karena dengan hubungan komunikasi yang baik, seorang pelayan kesehatan dapat membina  hubungan yang harmonis kepada pasiennya agar dapat mempengaruhi pasien dalam menceritakan keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas serta dapat pula mempengaruhi pasien untuk mengambil keputusan mengenai rencana dan tindakan selanjutnya.
Keharmonisan hubungan komunikasi antara bidan desa dan dan dukun bayi sebagai kader pelayan kesehatan bagi ibu hamil ini terjadi pula pada Desa Pudaria jaya. Yang dimana hubungan komunikasi antara Bidan dan Dukun telah berjalan  dengan efektip, sehingga dalam penerapan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil pada Desa Pudaria Jaya selalu berjalan seperti yang diharapkan. Dengan demikian pelayanan kesehatan yang dilakukan kedua kader tersebut tidak pernah mengalami kendala dalam menangani pasiennya, mereka selalu mendapatkan keterangan dan informasi sesuai  dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan, hal ini dapat membantu bidan dan dukun dalam memberikan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan pasien untuk menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut.
Perbedaan akan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kedua kader tersebut bukanlah suatu masalah bagi mereka. Karena pada prinsipnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat merupakan tugas mulia yang sangat dijunjung tinggi. Pada dasarnya bidan desa dan dukun bayi memberikan keleluasaan kepada setiap pasiennya untuk memilih jalan pelayanan kesehatan yang di inginkan hal tersebut dilakukan untuk memberikan kebebasan dan kenyamanan demi keselamatan ibu hamil dan bayinya. Meski pada dasarnya bidan desa merupakan tenaga medis yang memiliki pengetahuan yang di dasari oleh teori dan merupakan suatu produk yang didukung oleh pemerintah namun pada kenyataanya bidan pada desa pudaria jaya sangatlah menghargai kebudayaan serta adat kebiasaan yang diyakini masyarakat setempat dalam hal pelayanan kesehatan. Sehingga sampai pada saat ini pelayanan kesehatan yang dilakukan dukun bayi dan bidan pada desa pudaria jaya masih tetap berjalan di tengah-tengah masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa perbedaan akan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki setiap individu bukanlah menjadi suatu kendala yang berarti. Karena dengan komunikasi yang baik hubungan antara individu yang satu dengan  yang lainnya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Pelayanan kesehatan yang dilakukan bidan desa dan dukun bayi merupakan suatu kegiatan sosial yang sangat manusiawi, yang didasari atas pengabdian dan tanggung jawab tinggi demi kesehatan dan kelangsungan hidup orang banyak. Oleh karenanya bidan dan dukun dalam pelayananya memberikan keleluasaan bagi ibu hamil untuk memilih pelayanan kesehatan yang dianggap memberikan kenyamanan, demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Sehubungan dengan urain tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul “Komunikasi Bidan Desa dan Dukun Bayi Dalam Pelayanan Kesehatan Bagi Ibu Hamil di Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo”.
1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis mengangkat permasalahan mengenai:
1.      Bagaimana komunikasi bidan desa dan dukun bayi dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil.
2.      Bagaimana bentuk komunikasi pelayanan kesehatan  bidan desa bagi ibu hamil pada Desa Pudaria Jaya
3.      Bagaimana bentukq komunikasi pelayanan kesehatan dukun bayi bagi ibu hamil pada Desa Pudaria Jaya
1.3  Tujuan Penelitian dan Mamfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui bagaimana komunikasi yang dilakukan bidan desa dan dukun bayi dalam  pelayanan kesehatan bagi ibu hamil pada desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo Kabupaten Konawe Selatan.
2.      Untuk mengetahui bagaimana bentuk komunikasi pelayanan kesehatan yang dilakukan bidan desa bagi ibu hamil  pada Desa Pudaria Jaya Kecamatan MoramoKabupaten Konawe Selatan.
3.      Untuk mengetahuai bagaimanan bentuk komunikasi pelayanan kesehatan yang digunakan Dukun Bayi bagi ibu hamil di Desa pudaria jaya,Kecamatan Moramo.
1.3.2 Mamfaat Penelitian
a.       Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan Ilmu Komunikasi, khususnya Ilmu Komunikasi Antar pribadi.
b.      Secara metodologis, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan atau pembanding bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian sejenis di masa yang akan datang.
c.       Secara Praktis, penelitian ini dapat dijadikan referensi ataupun masukan bagi bidan desa,dukun bayi serta ibu hamil dalam pelayanan kesehatan sebagai upaya meningkatkan pelayanan kesehatan.
1.4   Sistimatika Penulisan
Sistimatika penulisan dalam  laporan penelitian ini dibagi dalam tiga (III) Bab, dan tiap-tiap Bab terdiri dari beberapa sub Bab yang memiliki keterkaitan yang saling menjelaskan, dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab.  I     Pendahuluan,  yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan
                manfaat penelitian serta sistimatika penulisan laporan penelitian.
Bab. II    Tinjauan pustaka dan Kerangka pikir, yang memaparkan uraian tentang
konsep-konsep teoritis diantaranya, Konsep Komunikasi,Konsep bidan  desa,Dukun bayi, Pelayanan Kesehatan,Ibu hamil serta Kerangka Berfikir.
Bab.III    Metode  Penelitian, Bab ini berisi pemaparan tentang lokasi penelitian,   
subyek dan informan, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, desain operasional variabel, serta konseptualisasi.
Bab.IV   Hasil dan Pembahasan, Bab ini memuat tentang hasil penelitian dan
pembahasan yang memuat gambaran umum lokasi penelitian, dan   seterusnya.
 Bab. V   Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA & KERANGKA BERFIKIR
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Konsep Komunikasi
Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, “comunis”, yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar katanya “communis” adalah “communico” yang artinya berbagi. Dalam literatur lain disebutkan komunikasi juga berasal dari kata “communication” atau “communicare” yang berarti " membuat sama" (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal usul kata komunikasi ,yang merupakan akar kata dari kata-kata latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyatakan bahwa suatu  pikiran,suatu makna,atau suatu pesan dianut secara sama. (Deddy Mulyana 2002:41).
Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu peryataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(2005:16) mengenai komunikasi manusia yaitu komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok,organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan  satu sama lain.


Menurut Effendy (1998:34) bentuk komunikasi terbagi atas:
1.      Komunikasi informatif adalah penyampaian pesan oleh komunikator dalam bentuk informasi agar komunikan/khalayak dapat mengetahuinya.
2.      Komunikasi persuasif adalah penyampaian pesan yang dilakukan oleh komunikator dalam bentuk bujukan kepada komunikan/Khalayak agar dapat dipahami oleh komunikan/khalayak yang dituju.
3.      Komunikasi koersif adalah penyampaian pesan yang dilakukan oleh komunikator dalam bentuk paksaan/tekanan kepada komunikan/khalayak.
     Memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat dilancarkan secara efektif dalam Effendy (1994:10) bahwa para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Laswel dalam karyanya, The Structue and Fuction of Communication in Society. Laswell mengatakan bahwan cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagi berikut: Who Says What In Which Chanel To Whom Whith What Effect?
Pakar komunikasi lain, Joseph A. Devito mengemukakan komunikasi sebagai transaksi. Transaksi yang dimaksudkannya bahwa komunikasi merupakan suatu proses dimana komponen-komponennya saling terkait dan bahwa para komunikatornya beraksi dan bereaksi sebagai suatu kesatuan dan keseluruhan. Dalam setiap proses transaksi, setiap elemen berkaitan secara integral dengan elemen lain. (Suprapto, 2006 : 5).
Sementara Riswandi (2006) menyimpulkan beberapa karakteristik komunikasi berdasar berbagai  definisi yang dikemukakan para ahli, antara lain :
1.      Komunikasi adalah suatu proses, artinya komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan (ada tahapan atau sekuensi) serta berkaitan satu sama lainnya dalam kurun waktu tertentu.
2.      Komunikasi adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan. Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara  sadar, disengaja, serta sesuai dengan tujuan atau keinginan dari pelakunya.
3.      Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat kegiatan komunikasi akan berlangsung baik apabila pihak-pihak yang berkomunikasi  (dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan sama-sama mempunyai perhatian yang sama terhadap topik pesan yang disampaikan.
4.      Komunikasi bersifat simbolis karena dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang yang paling umum digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasa verbal dalam bentuk kata-kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.
5.      Komunikasi bersifat transaksional. Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan, yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara seimbang atau porsional.
6.      Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya bahwa para pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi seperti telepon, internet, faximili, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi,(Riswandi, 2006 WordPress.com).
Ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner sehingga definisi komunikasipun menjadi banyak dan beragam. Masing-masing mempunyai penekanan arti,cakupan,konteks yang berbeda satu sama lain,tetapi pada dasarnya berbagai definisi komunikasi yang ada sesunguhnya saling melengkapi dan menyempurnakan dan sejalan dengan perkembangan komunikasi itu sendiri.
Dari beberapa pengertian komunikasi di atas, tampak adanya sejumlah komponen atau unsur-unsur yang merupakan persyaratan terjadinya komunikasi. Unsur-unsur tersebut (Effendy, 1990:11) adalah sebagai berikut :
a.       Komunikator, adalah orang yang menyampaikan pesan
b.      Pesan, adalah pernyataan yang didukung oleh lambang.
c.       Media, adalah sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlah.
d.      Komunikan, adalah orang yang menerima pesan.
e.        Efek, adalah dampak sebagai pengaruh dari pesan
Kedudukan komunikasi dalam kehidupan manusia sangatlah penting, sehinga banyak pihak menganggap komunikasi sebuah entitas penting yang memiliki fungsi utama dalam berinteraksi sehingga dapat menuntun individu,keluarga dan masyarakat mengenal lebih dekat tentang diri dan lingkungannya,baik itu fikiran ,ide dan gagasan (kepentingan,keinginan,kehendak,atau cita-cita) cara pandang atau hal lain diluar dirinya (lingkungan sosial). (Sumadi Dilla 2007 : 25).
Sementara Rudolf F.Verderber (dalam dilla 2007:26) mengemukakan bahwa komunikasi memiliki dua fungsi. Pertama,fungsi sosial yakni untuk kesenangan,menunjukan ikatan dengan orang lain,serta membangun dan memelihara hubungan. Kedua,fungsi pengambilan keputusan ,yakni memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan  sesuatu pada saat tertentu. Selain itu pakar komunikasi lain menyebutkan komunikasi mempunyai dua fungsi lain,untuk kelangsungan hidup diri sendiri dan untuk kelangsungan hidup orang masyarakat. 2.1.2 Konsep Bidan Desa
Bidan adalah seseorang dengan persyaratan tertentu telah mengikuti dan menyelesaikan program pendidikan yang diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku.  Dalam zaman moden ini , Bidan merupakan satu jawatan yang dilantik oleh Kementerian Kesehatan setelah mereka mendapat latihan perbidanan di Sekolah Jururawat . Biasanya bidan desa adalah mereka yang ditempatkan di kampung-kampung yang mempunyai klinik desa dan meronda dari rumah ke rumah wanita yang mengandung , bakal melahirkan anak dan selepas melahirkan anak.  (http://www.scribd.com 2011/11)
Secara umum tujuan penempatan Bidan adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) sehingga angka kematian ibu,angka kematian bayi dan angka kelahiran dapat menurun (Depkes, RI, 1994).
     Adapun tujuan khusus bidan desa berdasarkan buku pandua bidan yaitu:
a.       Meningkatkan  cakupan dan mutu pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan,perawatan nifas, kesehatan bayi dan anak balita serta pelayanan konseling pemakaian kontrasepsi, serta keluarga berencana.
b.      Terjaringnya seluruh kasus resiko ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir untuk mendapatkan penanganan yang memadai sesuai kasus dan rujukannya.
c.       Meningkatkan peran masyarakat dalam pembinaan kesehatan ibu hamil dan anak diwilayah kerjanya.
d.      Meningkatkan prilaku hidup sehat pada ibu,keluarga dan masyarakat.
2.1.2.1 Pelayanan Bidan Desa
        Pelayanan adalah suatu aktivitas yang bertujuan untuk memberikan pertolongan, bimbingan, pendidikan, dan perlindungan kepada individu,kelompok, atau masyarakat agar dapat melaksanakan fungsi sosial dengan baik. Secara luas pelayanan mencakup fungsi pengembangan yang menyangkut bidang pelayanan seperti kesehatan. Memasuki tahun 1989, pemerintah melaksanakan program pengangkatan dan penempatan bidan desa di seluruh tanah air.
Dasar  penempatan bidan desa adalah Permenkes RI Nomor 363/Menkes/Per/IX/1989tentang wewenang bidan serta surat edaran Dirjen Binkesmas Nomor 429/Binkesmas/Per/IX/1989 tentang kebijaksanaan penempatan bidan desa. Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan,yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga, sesuai dengan kewenangan dalam rangka tercapainya keluarga kecil bahagia dan sejahtera. http://www.scribd.com (2011:10)
Bidan desa melakukan pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Pelayanan kesehatan tersebut dapat meliputi ibu hamil, bersalin dan nifas serta bayi baru lahir. Bidan desa dalam melaksanakan tugasnya mengadakan kunjungan rumah pada ibu dan anak yang memerlukannya. Wewenang yang dilakukan bidan desa secara garis besar meliputi pelayanan kesehatan saat kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Pelayanan yang dilakukan oleh bidan desa berorientasi pada kesehatan masyarakat.
2.1.3  Dukun Bayi
Tenaga yang sejak dahulu kala sampai sekarang memegang peranan penting dalam pelayanan kebidanan ialah dukun bayi atau nama lainnya dukun beranak, dukun bersalin, dukun peraji. Dalam lingkungan dukun bayi merupakan tenaga terpercaya dalam segala soal yang terkait dengan reproduksi wanita. Dalam beberapa budaya (kultur),dukun bayi diartikan sebagai seorang wanita yang memiliki pengaruh besar dimasyarakat dan merupakan tokoh kunci  yang berpotensi untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Rita Yulifah (2009 :132)
Dukun bayi  selalu membantu pada masa kehamilan, mendampingi wanita saat bersalin, sampai persalinan selesai dan mengurus ibu dan bayinya dalam masa nifas. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengenal dukun bayi atau dukun beranak sebagai tenaga pertolongan persalinan. Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat, pada umumnya seorang wanita yang sudah berumur ± 40 tahun ke atas, diangkat berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat serta memiliki keterampilan menolong persalinan secara tradisional dan memperoleh keterampilan tersebut dengan cara turun-temurun dari ibu kepada anak atau dari keluarga dekat lainnya belajar secara praktis atau cara lain yang menjurus kearah peningkatan keterampilan tersebut serta melalui petugas kesehatan.       (Prawirahardjo, Sarwono. 2001).
            Dukun bayi yaitu mereka yang memberi pertolongan pada waktu kelahiran atau dalam hal-hal yang berhubungan dengan pertolongan kelahiran, seperti memandikan bayi, upacara menginjak tanah, dan upacara adat serimonial lainnya.     Pada kelahiran anak, dukun bayi yang biasanya adalah seorang wanita tua yang sudah berpengalaman, membantu melahirkan dan memimpin upacara yang bersangkut paut dengan kelahiran itu (Koentjaraningrat, 1992:205).
          Sekitar 70% - 80% pertolongan persalinan di pedesaan ditangani oleh dukun bayi. Dukun bayi mendapat kepercayaan penuh sebagai orang tua yang dapat melindungi klien dan keluarga.
2.1.3.1 Cara Pertolongan persalinan Dukun Bayi
Tak berbeda dengan seorang bidan, dukun beranak melakukan pemeriksaan kehamilan melalui indri raba (palpasi). Biasanya perempuan yang mengandung, sejak mengidam sampai melahirkan selalu berkonsultasi kepada dukun, bedanya dibidan perempuan yang mengandunglah yang datang ketempat praktek bidan untuk berkonsultasi. Sedangkan dukun ia sendiri yang berkeliling dari pintu ke pintu memeriksa ibu yang hamil. Sejak usia kandungan 7 bulan control dilakukan lebih sering.
            Dukun juga menjaga jika ada gangguan, baik fisik maupun non fisik terhadap ibu dan janinnya.  Agar janin lahir normal, dukun biasa melakukan perubahan posisi janin dalam kandungan dengan cara pemutaran perut (diurut-urut)disertai doa.
Ketika usia kandungan 4 bulan, dukun melakukan upacara tasyakuran katanya janin mulai memiliki roh,hal itu terasa pada perut ibu bagian kanan ada gerakan halus. Pada usia kandungan 7 bulan, dukun melakukan upacara tingkeban. Katanya janin mulai bergerak meninggalkan alam rahim menuju alam dunia, melalui kelahiran. Calon ibu mendapat perawatan khusus, selain perutnya dielus-elus, badannya juga dipijat-pijat, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malah disisir dan di bedaki agar ibu hamil tetap cantik meskipun perutnya makan lama makin besar. http://darwismamin.wordpress. com.(2011:11)
2.1.3.2 Peran dukun Bayi
            Peran seorang dukun bersalin mempunyai rentang waktu yang panjang dalam menangani pasienya,mulai dari memberi sugesti sampai menjelaskan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilangar oleh ibu yang sedang hamil,termasuk makanan yang dianjurkan dan yang dipantangkan karena berpengaruh terhadap janin yang ada dalam kandungan. Umumnya dukun bayi dijadikan media konsultasi oleh ibu-ibu yang sedang mengandung,sejak  mengidam sampai melahirkan.
Kesehatan dan keselamatan calon bayi dan ibu hamil juga dipengaruhi oleh peran aktif dukun bersalin. Peran dan tindakan dukun bersalin selalu memberi motivasi dan pelayanan pengobatan secara cepat dan tepat kepada ibu hamil,sejak awal kehamilan,saat persalinan dan setelah persalinan. Seorang dukun bersalin mempunyai tanggung jawab penuh terhadap kondisi calon bayi dan ibu hamil. Oleh karena itu ibu dituntut untuk selalu memperhatikan dan menjaga kehamilan agar bayi yang dikandungnya berkembang dengan baik dan dipastikan dalam kondisi sehat.
Disisi lain biaya pertolongan bayi oleh dukun di berikan secara bertahap dan biasanya biaya yang ditawarkanpun relatif cukup murah dibanding bidan, bahkan mereka tidak mau diukur dengan nilai uang setiap melakukan persalinan, tidak pernah menetapkan standar harga sesuai keikhlasan pasien. Besarnya tarif dukun hanya sepersepuluh atau seperlima dari tarif bidan desa. (Kartika, Sofia.2004).
          Pembagian Dukun Bayi, Menurut Depkes RI, dukun bayi dibagi menjadi 2 yaitu:
1.  Dukun Bayi Terlatih, adalah dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan         oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.
2. Dukun Bayi Tidak Terlatih, adalah dukun bayi yang belum pernah terlatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus.
2.1.4  Konsep Pelayanan Kesehatan
            Pelayanan kesehatan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum sebagai yang dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
             Menurut Moenir (1997 : 56), istilah pelayanan mempunyai arti proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain secara langsung. Jika orang lain yang dilayani itu jumlahnya banyak, maka dapat disebut pelayanan umum. Istilah pelayanan umum ini menurut moneir, berkaitan erat dengan istilah kepentingan yang menyangkut orang banyak  atau masyarakat tersebut. Ini berbeda dengan kepentingan pribadi yang merupakan perwujudan dari keinginan memenuhi hak pribadi seseorang.
            Azrul Azwar (1988:40) mendefinisikan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, kelompok,dan ataupun masyarakat. Bentuk dan jenis pelayanan kesehatan dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Pelayanan Kedokteran (medical services)
Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan kedokteran(medical service) ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat berdiri sendiri (solo practice) atau secara bersama-sama dalam satu organisasi (institution). Tujuan utamanya untuk menyembuhkan penyakitdan memulihkan kesehatannya, serta sasarannya terutama untuk  perseorangan dan keluarga.
2.      Pelayanan Kesehatan Masyarakat (public healthy services)
Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan kesehatan masyarakat (public health service) ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya secara bersama-sama dalam satu organisasi. Tujuan utamanya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit dan sasaran utamanya adalah untuk kelompok dan masyarakat. Dari kedua bentuk dan jenis pelayanan kesehatan di atas dapat kitaketahui bahwa antara pelayanan kedokteran berbeda dengan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun untuk dapat disebut sebagai pelayanan kesehatan yang baik, keduanya harus memenuhi beberapa persyaratan pokok.
Azrul Azwar (1988:43) menyebutkan beberapa persyaratan pokok yang harus dipenuhi dalam pelayanan kesehatan yang baik diantaranya adalah :
1.      Ketersediaan dan Kesinambungan Pelayanan.
Pelayanan yang baik adalah pelayanan kesehatan yang tersedia di masyarakat (acceptable) serta berkesinambungan (sustainable). Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat ditemukan serta keberadaannya dalam masyarakat adalah ada pada tiap saat dibutuhkan.
2.      Kewajaran dan Penerimaan Masyarakat
Pelayanan kesehatan yang baik adalah bersifat wajar (appropriate) dan dapat diterima (acceptable) oleh masyarakat. Artinya pelayanan kesehatan tersebut dapat mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi, tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat tidak wajar, bukanlah suatu keadaan pelayanan kesehatan yang baik.
3.      Mudah Dicapai oleh Masyarakat
Pengertian dicapai yang dimaksud disini terutama dari letak sudut lokasi mudah dijangkau oleh masyarakat, sehingga distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting. Jangkauan fasilitas pembantu untuk menentukan permintaan yang efektif. Bila fasilitas mudah dijangkau dengan menggunakan alat transportasi yang tersedia maka fasilitas ini akan banyak dipergunakan. Tingkat pengguna di masa lalu dan kecenderungan merupakan indikator terbaik untuk perubahan jangka panjang dan pendek dari permintaan pada masa akan datang.
4.      Terjangkau
Pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan yang terjangkau (affordable) oleh       masyarakat, dimana diupayakan biaya pelayanan tersebut sesuai dengan kemampuan.
Sebagai pelaku dari pada penyelenggaraan pembangunan pelayanan kesehatan adalah masyarakat, pemerintah ( pusat, provinsi, kabupaten/kota ), badan legeslatif serta badan yudikatif. Dengan demikian dalam lingkungan pemerintah baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus saling bahu membahu secara sinergis melaksanakan pembangunan pelayanan kesehatan yang terencana, terpadu dan berkesinambungan dalam upaya bersama-sama mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Keberhasilan pembangunan pelayanan Kesehatan berperan penting dalam meningkatkan mutu dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Untuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan bidang kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu.
2.1.5. Konsep ibu Hamil
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan (Manuaba, 1998 : 4). Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya kehamilan normal 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 trimester yaitu trimester pertama dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan, trimester kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Prawirohardjo, 2006: 89) 
Kehamilan mempengaruhi perubahan fisik dan mental emosi ibu. Pada masa kehamilan emosi mudah turun dan naik. Muncul rasa cemas dan takut menghadapi persalinan dan kondisi bayi dalam kandungan. Hal tersebut bisa diakibatkan perubahan hormon dalam tubuh serta ada keinginan ibu mendapat perhatian suami dan lingkungannya, karenanya ibu hamil perlu memantau perkembangan kesejahteraan janin dengan bertanya kebidan atau dokter dan mengikuti kursus persalinan ”selama hamil aktivitas fisik seperti olah raga harus tetap dilakukan
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran). Dalam masyarakat, definisi medis dan legal kehamilan manusia dibagi menjadi tiga periode trimester untuk memudahkan tahap dari perkembangan janin. Trimester pertama (minggu pertama sampai minggu ke-13) membawa resiko tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan pada masa trimester kedua (minggu ke-14 sampai ke-26) perkembangan janin dapat dimonitor dan didiagnosa. Trimester ketiga (minggu ke-27 sampai kehamilan cukup bulan 38-40 minggu) menandakan awal viabilitas, yang berarti janin dapat tetap hidup bila terjadi kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan.

2.2  Kerangka Berpikir
Penelitian yang berjudul Komunikasi Antara Bidan Desa dan Dukun Bayi dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil mengunakan teori komunikasi Antara Pribadi, yang dimana komunikasi antar pribadi merupakan teori yang tepat untuk membedah pokok permasalahan penelitian ini, yakni bagaimana komunikasi yang digunakan bidan dan dukun bayi di Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo dalam pelayanan ibu hamil serta bagaimana bentuk komunikasi pelayanannya. Teori komunikasi dapat berlangsung apabila adanya komunikator, pesan, komunikan, teori ini berorientasi pada komunikator dalam mempengaruhi komunikan.
Teori komunikasi antar pesona Devito merupakan pergeseran dari upaya komunikator dalam memenuhi kepuasan komunikan, ini berarti bahwa teori komunikasi antar pesona  tidak berusaha mengubah sikap dan pendapat komunikan, melainkan komunikasi ini berupaya untuk melakukan penyesuaian pikiran tentang suatu pandangan tertentu, komunikasi ini berlangsung secara tatap muka namun terletak pada upaya komunikator itu sendiri untuk melayani komunikan. Komunikasi antar pesona adalah komunkasi tanpa menggunakan media atau komunikasi langsung/tatap muka.
Merrill dan Lownstein, 1971 (dalam liliweri 2007 :11) yang menyatakan bahwa,dalam pergaulan antar manusia selalu terjadi proses penyesuaian pikiran,penciptaan simbol yang mengandung pengertian bersama. Dari inti ungkapan itu, DeVito berpendapat bahwa "Komunikasi antar pribadi sebenarnya merupakan suatu proses sosial" (Liliweri, 1997:11).
Lebih lanjut Devito memberikan 5 (lima) ciri-ciri komunikasi antar pribadi, untuk memudahkan atau memperjelas pengertiannya, seperti : 1. Openess (keterbukaan), 2. Emphaty (empati, 3. Supportiveness (dukungan), 4. Positiveness (rasa positif), 5. Equality (kesamaan).
1.      Openess (keterbukaan).

Kedua belah pihak baik komunikator maupun komunikan saling mengungkapkan ide, gagasan, secara terbuka tanpa rasa takut atau malu. Keduanya saling mengerti dan memahami pribadi masing-masing, artinya dalam komunikasi yang dilakukan bidan dan dukun sebagai komunikator harus memberikan penjelasan tentang informasi pelayanan kesehatan yang sejelas-jelasnya kepada komunikan (ibu hamil), begitu pula ibu hamil sebagai komunikan harus menceritakan setiap keluhan yang dialaminya secara terus terang tanpa ada yang ditutup-tutupi demi mendapatkan tindakan pelayanan kesehatan selanjutnya.
2.      Emphaty (empati).
Komunikator dan komunikan merasakan situasi dan kondisi yang dialami mereka tanpa berpura-pura. Dan keduanya menanggapi apa-apa yang dikomunikasikan dengan penuh perhatian.  Empati menurut Rogers dan Bhownik, adalah kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada peranan orang lain. Apabila komunikator atau komunikan atau kedua-duanya (dalam situasi heteophily) mempunyai kemampuan untuk melakukan empati satu sama lain. Kemungkinan besar akan terdapat komunikasi yang efektif. Artinya dalam sebuah komunikasi yang dilakukan bidan dan dukun sebagai komunikator dan pasien sebagai komunikan, pada keduanya haruslah mempunyai kemampuan untuk merasakan kondisi antara satu dengan yang lainnya tanpa kesan yang berpura-pura.
3.      Supportiveness (dukungan).
Baik komunikator maupun komunikan saling memberikan dukungan terhadap setiap pendapat, ide, ataupun gagasan yang disampaikan. Dengan begitu keinginan yang ada dimotivasi untuk mencapainya. Dukungan menjadikan orang lebih semangat untuk melaksanakan aktivitas dan meraih tujuan yang diharapkan. Jadi dapat diartikan bahwa dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan bidan desa dan dukun bayi bagi ibu hamil sebagai komunikator maupun komunikan, sudah seharusnya saling memberikan dukungan pada setiap kegiatan dan usaha yang dilakukannya, begitu pula dalam memilih pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, pasien (komunikan), bidan dan dukun hendaknya menghargai dan mendukung keputusan yang diambil ibu hamil untuk mendapatkan  pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sesuai dengan pilihannya.
4.      Positiveness (rasa positif).
Apabila pembicaraan antara komunikator dan komunikan mendapat tanggapan positif dari keduanya, maka percakapan selanjutnya akan lebih mudah dan lancar. Rasa positif menjadikan orang-orang yang berkomunikasi tidak berprasangka atau curiga yang dapat mengganggu komunikasi. Artinya dalam sebuah pelayanan kesehatan yang dilakukan bidan dan dukun bagi ibu hamil, rasa saling percaya sangatlah dibutuhkan untuk saling menghargai dan tidak saling mencurigai antara satu dengan yang lainnya tentang setiap kegiatan yang dilakukan dan menerima dengan penuh rasa positif setiap bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan pada pasien.
5.      Equality (kesamaan).
Adanya kesamaan baik dalam hal pandangan, sikap, usia, dan lain-lain mengakibatkan suatu komunikasi akan lebih akrab dan jalinan antar pribadi pun akan
lebih kuat. Melalui komunikasi antarpesona kita berinteraksi dengan orang lain, mengenal mereka dan diri kita sendiri, dan mengungkapkan diri sendiri kepada orang lain melalui komunikasi antar personalah kita membina, memelihara, kadang-kadang merusak, hubungan pribadi kita dengan kenalan baru, kawan lama, kakasih atau anggota keluarga. Artinya dalam sebuah komunikasi bidan dan dukun sebagai kader kesehatan bagi ibu hamil, seharusnya mereka memiliki kesamaan pandangan, pemahaman, maksud dan tujuan, dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan agar setiap upaya yang dilakukan dan yang diingginkan dapat berjalan dengan mudah tanpa adanya kesalah pahaman.
Devito (Effendi, 1998:62) mengemukakan bahwa komunikasi antar pesona merupakan pengiriman pesan dari seseorang dan diterima orang lain dengan efek dan umpan balik langsung. Pada hakekatnya komunikasi antar pesona adalah komunikasi antar seorang komunikator dengan seorang komunikan, jenis komuikasi ini dianggap paling efektif untuk mengubah sikap atau pedapat, prilaku manusia dan proses dialogisnya.
Menurut effendy (1998 : 8) tehnik komunikasi atau pola komunikasi terbagi atas tiga yaitu :
a.       Komunikasi Informatif
b.      Komunikasi Persuasif
c.       Komunikasi Intruktif/koersif
Miler dan Stainberg (dalam liliweri 1997:27) mengatakan, kedudukan dan peran seorang komunikator dapat berganti-ganti dengan komunikan dalam situasi yang selalu berubah-ubah. Pada tahap tersebut komunikasi antarmanusia telah berubah menjadi hubungan yang manusiawi.
Komunikasi antar pribadi yang manusiawi berarti komunikasi yang telah memasuki tahap psikologis yang komunikator dan komunikannya saling memahami pikiran, perasaan dan melakukan tindakan bersama. Ini juga berarti bahwa apabila kita hendak menciptakan komunikasi antarpribadi yang bermutu maka kita perlu menciptakan situasi komunikasi yang penuh dengan keakraban yang didahului oleh pertukaran informasi tentang identitas dan masalah pribadi yang bersifat sosial. (Liliweri 2007:28)
 Dengan penjelasan diatas,teori ini menurut saya bisa menjadi teori dasar untuk mengetahui komunikasi yang dilakukan bidan desa dan dukun bayi dalam menangani persalinan yang mengarah pada tindakan sosial dalam upaya peningkatan kesehatan dimasyarakat  karena dalam teori ini mengarah pada pendekatan teoritis yang paling umum dalam komunikasi. Teori komunikasi antar pribadi ini berurusan pada hubungan komunikasi yang saling membina, memelihara, memahami pikiran, perasaan dan melakukan tindakan sosial secara bersama dalam sebuah pelayanan kesehatan yang dilakukan bidan dan dukun bagi ibu hamil, dan tentunya ini merupakan tindakan komunikasi antar manusia yang sangat manusiawi.
Proses komunikasi antar pribadi dianggap beberapa pakar komunikasi sebagai bentuk komunikasi yang paling tua dalam ranah teori komunikasi,dan cara efektif,dan paling ampuh dalam berbagai bentuk kegiatan persuasi untuk mengubah sikap,kepercayaan,dan opini bagi sebuah perubahan.(Sumadi,Dilla 2007 :44).
            Menurut Cassagrande (Liliweri, 1997 : 45) komunikasi antar pesona terjadi karena :
1.      Menentukan orang lain untuk saling mengisi kekurangan dan membagi kelebihan.
2.      Dia ingin terlibat dalam proses perubahan yang relatif tetap.
3.      Dia ingin berinteraksi hari ini dan memahmi pengalaman masa lalu dan mengantisipasi masa depan.
4.      Dia ingin menciptakan hubungan baru.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi antar pesona merupakan komunikasi secara langsung (tatap muka) antara dua orang ataulebih dengan berbagai pola atau tehnik dalam penyampaian pesan oleh komunikator yaitu bagaimana orang yang berkomunikasi membuat prediksi tentang efek atau prilaku komunikasi dapat menimbulkan reaksi bagi komunikan menyenangkan atau positif, maka merupakan suatu tanda bahwa komunikator berhasil dalam proses komunikasi.

Berdasarkan uraian diatas maka kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Komunikasi Bidan Desa dan Dukun Bayi Dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil
KERANGKA BERFIKIR


Teori Komunikasi Antarpribadi, Devito (Liliweri, 1997)


Bentuk Komunikasi Pelayanan Kesehatan Bidan Desa bagi Ibu Hamil
a.    Pemeriksaan rutin
b.   Pemberian vitamin
c.    Pemberian imunisasi
d.   Pemberian arahan/nasihat
Bentuk Komunikasi Pelayanan Kesehatan Dukun Bayi bagi Ibu Hamil
a.Pemeriksaan rutin
b.Pemberian sugesti/nasihat
c.Pelayanan  persalinan


Bentuk komunikasi Bidan Desa dan Dukun Bayi bagi Ibu Hamil
·         Komunikasi Informatif
·         Komunikasi Persuasip
·         Komunikasi Intruktif



 
















Gambar 1. Skema Kerangka Pikir
Sumber : Hasil modifikasi penulis (2012)



BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo Kabupaten Konawe Selatan.  Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan bahwa, di Desa Pudaria Kecamatan Moramo ini masih mengunakan jasa Dukun bayi dan Bidan Desa  dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Hal ini disebabkan karena pertolongan secara medis modern dan medis tradisional masih dibutuhkan oleh masyarakat setempat.
3.2 Subjek dan Informan Penelitian
            Subjek dalam penelitian ini adalah ibu hamil dan bersalin yang ada di Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo yang berjumlah + 10 orang.
Adapun informan dalam penelitian ini terdiri dari bidan desa dan dukun bayi pada Desa Pudaria Jaya yang masing-masing berjumlah 1 Orang.
3.3 Teknik Penentuan Informan
            Teknik penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu informan sampling dipilih atas dasar pertimbangan tertentu yang dianggap representatif untuk memperoleh data yang berkaitan dengan komunikasi bidan desa dan dukun bayi dalam pelayanan kesehatan ibu hamil di Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo.



3.4 Jenis dan Sumber Data
3.4.1. Jenis Data
            Data kualitatif adalah data yang berdasarkan atas segala informasi dan keterangan yang diberikan oleh informan yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
3.4.2.Sumber Data
Penelitian ini terdiri atas data primer dan data skunder.
1.      Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari informan atau subjek   penelitian,melalui wawancara.
2.      Data skunder adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan berupa buku-buku, atau literatur-literatur serta laporan-laporan yang  menyangkut dengan obyek penelitian.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data merupakan cara kerja yang berkaitan dengan apa yang akan dilakukan dan dibuat dalam rangka mendapatkan data yang dibutuhkan sesuai dengan permasalahan dalam penelitian.Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah sebagai berikut:
1.      Observasi, yaitu data yang dikumpulkan berdasarkan hasil pengamatan langsung penulis pada lokasi penelitian yang berkaitan dengan komunikasi bidan desa dan dukun bayi.
2.      Wawancara, yakni bertanya secara langsung kepada informan mengenai fokus penelitian dengan menggunakan pedoman wawancara.
3.6. Teknik Analisis Data
            Data yang diperoleh dalam penelitian ini  akan dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu dengan memberikan penjelasan yang sistematis,akurat dan faktual berdasarkan temuan dilapangan mengenai komunikasi Bidan Desa dan Dukun Bayi dalam Pelayanan Kesehatan Bagi Ibu Hamil di Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo.
3.7. Desain Penelitian
No
Unit Analisis
Struktur Kerangka Analisis
Teknik Pengumpulan Data
1.
Komunikasi bidan desa dan dukun bayi dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil di Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo antara lain:

a.    Komunikasi 
Informatif



b.   Komunikasi persuasip



c.    Komunikasi Intruktif/koersip

a.       Menganalisis komunikasi bidan desa dan dukun bayi dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil melalui pola komunikasi informatif.
b.      Menganalisis komunikasi bidan desa dan dukun bayi dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil melalui pola komunikasi persuasip.
c.       Menganalisis komunikasi bidan desa dan dukun bayi dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil melalui pola komunikasi intruktip/koersip
a.       Observasi
b.       Wawancara


















2.
Bentuk komunikasi pelayanan kesehatan yang digunakan bidan desa bagi ibu hamil.
a.    Pemeriksaan rutin




b.   Pemberian vitamin




c.    Pemberian imunisasi





d.   Pemberian arahan/nasihat


a.   Menganalisis bentuk
komunikasi pelayanan kesehatan yang digunakan bidan desa pada ibu hamil dengan pemeriksaan rutin
b.      Menganalisis bentuk
komunikasi pelayanan kesehatan yang digunakan bidan desa pada ibu hamil dengan pemberian vitamin
c.   Menganalisis bentuk
komunikasi pelayanan kesehatan yang digunakan bidan desa pada ibu hamil dengan pemberian imunisasi
d.      Menganalisis bentuk
komunikasi pelayanan kesehatan yang digunakan bidan desa pada ibu hamil dengan pemberian arahan/nasihat
a.       Observasi
b.      wawancara

3.
Bentuk komunikasi pelayanan kesehatan yang digunakan  dukun bayi bagi ibu hamil.
a.  Pemeriksaan rutin





b.  Memberikan sugesti/arahan




c.    Pelayanan persalinan

a.    Menganalisis bentuk    komunikasi pelayanan kesehatan yang dilakukan dukun bayi bagi ibu hamil dengan melakukan pemeriksaan rutin
b.    Menganalisis bentuk    komunikasi pelayanan kesehatan yang dilakukan dukun bayi bagi ibu hamil dengan memberikan sugesti/anjuran
c.    Menganalisis bentuk    komunikasi pelayanan kesehatan yang dilakukan dukun bayi bagi ibu hamil dengan memberikan pelayanan persalinan
a.  Observasi
b. Wawancara
3.8. Defenisi Opersional
     3.8.1. Komunikasi Bidan Desa dan Dukun Bayi
1.      Komunikasi informatip adalah penyampaian pesan oleh komunikator dalam bentuk informasi agar komunikan atau khalayak dapat mengetahuinya.
2.      Komunikasi persuasip adalah penyampaian pesan yang dilakukan oleh komunikator dalam bentuk bujukan kepada komunikan atau khalayak agar komunikan atau khalayak memahaminya.
3.      Komunikasi koersip adalah penyampaian pesan yang dilakukan oleh komunikator dalam bentuk paksaan atau tekanan kepada komunikan atau khalayak.
3.8.2.      Bentuk Komunikasi Pelayanan Kesehatan
1.      Pemeriksaan rutin adalah pemeriksaan yang dilakukan secara berturut-turut  sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
2.      Pemberian vitamin adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka peningkatan kesehatan dengan cara memberikan vitamin sesuai dengan yang dibutuhkan.
3.      Pemberian imunisasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk memberikan suntikan kepada ibu hamil dan bayi untuk mencegah penyakit.
4.      Pemberian susu formula adalah kegiatan yang dilakukan oleh bidan desa dalam rangka memberian bantuan asupan berupa susu formula kepada ibu hamil dan bayi.
5.      Pemberian sugesti adalah suatu upaya yang dikemukakan dukun bayi berupa, anjuran, pendapat, doktrin (untuk dipertimbangkan) yg dapat menggerakkan hati orang.
6.      Pelayanan persalinan adalah sebuah kegiatan dalam melakukan pertolongan yang dilakukan dukun bayi kepada ibu hamil dalam membantu proses kelahiran.
7.      Pemberian arahan/nasihat adalah kegiatan yang dilakukan oleh bidan desa untuk memberikan nasihat dan arahan guna membantu dalam mengubah sikap dan prilaku ibu hamil agar lebih baik dari sebelumnya.
3.9. Konseptualisasi
1.      Komunikasi adalah sebagai suatu proses  dimana suatu pesan  dipindahkan atau dioperkan (lewat suatu saluran) dari suatu sumber kepada penerima dengan maksud mengubah perilaku, perubahan dalam pengetahuan, sikap dan atau perilaku.
2.      Bidan desa adalah seseorang dengan persyaratan tertentu telah mengikuti dan menyelesaikan program pendidikan yang diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku,  dan merupakan satu jawatan yang dilantik oleh Kementerian Kesehatan. Biasanya bidan desa adalah mereka yang ditempatkan di kampung-kampung yang mempunyai klinik desa dan meronda dari rumah ke rumah wanita yang mengandung , bakal melahirkan anak dan selepas melahirkan anak.
3.      Dukun bayi adalah  Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat, pada umumnya seorang wanita yang sudah berumur ± 40 tahun ke atas, diangkat berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat serta memiliki keterampilan menolong persalinan secara tradisional dan memperoleh keterampilan tersebut dengan cara turun-temurun dari ibu kepada anak atau dari keluarga dekat lainnya belajar secara praktis atau cara lain yang menjurus kearah peningkatan keterampilan tersebut.
4.      Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, kelompok,dan ataupun masyarakat.
5.      Kehamilan adalah dikandungnya janin hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir
su·ges·ti /sug├ęsti/ 1 pendapat yg dikemukakan (untuk dipertimbangkan); anjuran; saran; 2 pengaruh dsb yg dapat menggerakkan hati orang dsb; dorongan







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Gambaran Umum Lokasi
4.1.1.      Letak Geografis
Desa Pudaria Jaya merupakan salah satu desa Yang terletak di Kecamatan Moramo bagian Selatan Kabupaten Konawe Selatan. Desa Pudaria Jaya merupakan lokasi lahan kering dengan kondisi yang berbukit-bukit yang umumnya digunakan sebagai lahan perkebunan,  Jarak antara Desa pudaria dengan Ibukota Kecamatan Moramo adalah 7 km, sedangkan jarak Desa Pudaria Jaya dengan Ibukota Kabupaten adalah 130 km.
Keadaan Desa Pudaria Jaya dilihat dari letak geografisnya sangat baik karena dilihat dari akses jalan yang bagus dan merupakan jalan Propinsi yang dilewati oleh kendaraan roda empat, roda dua dan kendaraan lainya. Luas wilayah Desa pudaria Jaya 920 ha/m2 yang terdiri dari lahan pertanian, permukiman, dan prasarana umum lainnya.
Adapun batas-batas wilayah Desa Pudaria Jaya adalah:
1.      Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Lamboo
2.      Sebelah Timur Berbatasan dengan Desa Sumber Sari
3.      Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Baku Taru
4.      Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Watu Porambaa
4.1.2.      Topografi
       Secara topografi Desa Pudaria Jaya memiliki bentangan wilayah yang berbukit-bukit sehingga dengan kondisi tanah seperti ini cocok digunakan sebagai lahan perkebunan seperti coklat, kopi lada dan lain sebagainya sebagai potensi utama yang dimiliki.
4.1.3.      Keadaan Alam dan Iklim
       Keadaan alam di Desa Pudaria Jaya sangat baik dengan hamparan lahan pertanian yang merupakan mata pencaharian terbesar di Desa Pudaria Jaya yaitu sebagai petani kebun. Besarnya lahan pertanian yang ada memberikan harapan dan kesempatan untuk mengelola berbagai tanaman pertanian sehingga dapat bermamfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat.
       Secara geografis Desa Pudaria beriklim tropis. Desa pudaria berada diketinggian 110 dari permukaan laut dengan curah hujan di keseluruhan Desa merata 41,3 Mm.Musim penghujan terjadi pada bulan Desember- juni sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Juli-November. Adapun keadaan pergantian musim ini kadang- kadang tidak menentu yaitu terjadi musim kemarau yang panjang dan sering terjadi musim hujan yang panjang pula.
4.1.4.      Keadaan Demografis
1.      Jumlah Penduduk
            Penduduk Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo berdasarkan data tahunan kepala Desa Pudaria jaya 2012, telah tercatat sebanyak 868 jiwa, atau 214 KK. Dari 868 jiwa terdiri dari 448 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 420 jiwa berjenis kelamin perempuan.

2.      Komposisi Penduduk
a.    Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian
Gambaran lokasi penelitian berikut adalah mata pencaharian penduduk desa Pudaria Jaya. Sebagian besar masyarakat bermata pencaharian dibidang pertanian, hal ini didukung pula oleh potensi sumber daya peranian yang ada.  Penduduk Desa Pudaria Jaya yang bermata pencaharian sebagai petani kebun sebanyak 387 jiwa, untuk yang bermata pencaharian sebagai pedagang adalah sebanyak 27 jiwa. Penduduk yang bermata pencaharian  sebagai pegawai Negri Sipil (PNS) dan guru adalah sebanyak 15  jiwa, penduduk yang bermata pencaharian sebagai dukun sebanyak 2 jiwa, serta penduduk yang bermata pencaharian sebagai peternak sebanyak  28 jiwa.
b.    Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan penunjang dalam meningkatkan pengetahuan,kualitas sumber daya manusia yang profesional, sehinggga mampu berperan dalam kegiatan pembangunan khususnya di pedesaan. Petani yang berpendidikan memilki pengetahuan yang lebih banyak tentunya dibidang pertanaian yang memungkinkan penerimaan informasi atau pesan baik berupa ide, gagasan, cara atau teknik-teknik dalam bidang pertanian. Untuk Desa Pudaria Jaya yang mempunyai tingkat pendidikan SD sebanyak 370 jiwa, tingkat pendidikan SLTP sebanyak 137 jiwa, tingkat pendidikan SLTA sebanyak 123 jiwa, tingkat pendidikan Diploma D2,D3, sebanyak 37  jiwa serta Perguruan Tinggi sebanyak 28 jiwa.
b.    Komposisi penduduk menurut Suku Bangsa
Suku Bangsa yang dimiliki bangsa ini sangatlah beragam yang tersebar dari sabang sampai merauke  dan merupakan kekeyaan budaya yang tidak dimiliki bangsa lain, tidak tekecuali di Desa Pudaria Jaya yang penduduknya terdiri dari suku Sunda sebanyak 525 jiwa, suku Bali sebanyak 189 jiwa, suku Jawa sebanyak 111 jiwa, suku Bugis sebanyak 14 jiwa, suku Muna sebanyak 10 jiwa, suku Ambon sebanyak 2 jiwa dan suku Mekongga 2 jiwa.
c.    Komposisi Penduduk Menurut Agama dan Kepercayaan
Agama dan kepercayaan merupakan dua hal yang sangat penting dan sakral dalam kehidupan manusia, kebebasan dalam beragama, sikap saling toleransi antar umat beragama perlu dijaga agar kehiduan aman, damai dan sejahtera. Agama dan kepercayaan merupakan suatu pegangan hidup menuju Sang Pencipta dengan bersyukur atas segala limpahan karunianya yang telah diberikan kepada kita semua. Penduduk Desa Pudaria Jaya  memiliki keyakinan yang berbeda-beda oleh karenanya di Desa ini setiap masing-masing agama terlihat memiliki Rumah Ibadah sendiri, meskipun demikian rasa aman,damai dan tentram selalu menyertai setiap peribadatan yang dilakukan oleh setiap umat beragama yang ada. Desa Pudari Jaya memiliki penganut Agama Islam sebanyak 660 jiwa, penganut agama Hindu sebanyak 179 jiwa, penganut agama Kristen sebanyak 7 jiwa, penganut agama Katholik sebanyak 6 jiwa, dan penganut agama Budha sebanyak 9 jiwa.
3.    Keadaan Sosial Budaya
Keadaan sosial masyarakat Desa Pudaria Jaya sampai sekarang masih terjalin harmonis, hal ini dapat dilihat dari kerja sama yang dilakukan masyarakat dalam kegiatan sosial baik kegiatan penataan lingkungan, kegiatan pembersihan lingkungan maupun kegiatan sosial lainya, sehingga kebersihan lingkungan dapat terus dijaga dan rasa kekeluargaan dapat ditingkatkan. Homogenitas budaya masyarakat di desa ini masih berwujud pada prilaku yang memberi kesan bahwa mereka yang memiliki sikap yang toleran dengan pembawaan yang begitu teduh.
Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di Desa Pudaria masih sangat nampak rasa solidaritas yang tinggi dan kekeluargaan, hal ini dapat terlihat jika salah satu anggota masyarakat yang hendak membangun rumah,acara perkawinan, maupun pada saat salah satu anggota masyarakat yang meninggal dunia.
4.1.5.      Sarana dan Prasarana Kesehatan
Tujuan umum dari pembangunan kesehatan adalah untuk mengusahakan kesempatan yang luas bagi anggota masyarakat (penduduk) untuk memperoleh derajat kesehatan yang sebaik-baiknya dengan mengusahakan pelayanan kesehatan yang lebih luas, lebih merata, yang terjangkau bagi masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota.
Di desa Pudaria Jaya juga terdapat fasilitas kesehatan berupa Posyandu sebanyak 1 (satu)  buah, Polindes 1 buah, yang dilengkapi dengan bidan desa dan Dukun Bayi yang memberi pelayanan kepada masyarakat untuk mendapat pelayanan kesehatan. Pelayanan tersebut terutama kepada mereka yang sedang hamil serta ibu dan bayi untuk meningkatkan derajat kesehatan dan nilai asupan gizi sesuai dengan kebutuhan bayi.
4.2  Karakteristik Informan
Dalam penyampaian pesan mengenai pentingnya kesehatan bidan desa dan Dukun Bayi yang memberi pelayanan kepada masyarakat untuk mendapat pelayanan kesehatan, adapun informan dalam penelitian ini terdiri dari bidan desa dan dukun bayi pada Desa Pudaria Jaya yang masing-masing berjumlah 1 Orang.
4.3  Komunikasi Bidan Desa Dan Dukun Bayi Dalam Pelayanan Kesehatan Bagi Ibu Hamil
Upaya mewujudkan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil, Bidan Desa dan Dukun Bayi menerapkan beberapa bentuk komunikasi dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat Desa Pudaria Jaya, dalam hal menjaga kesehatan ibu hamil. Bentuk komunikasi yang digunakan oleh Bidan Desa dan Dukun Bayi dalam menyampaikan pelayanan kesehatan yang berupa komunikasi informatif, komunikasi persuasip/bujukan,komunikasi koersif/paksaan.
4.2.1.      Komunikasi Informatif
Komunikasi Informatif adalah suatu bentuk komunikasi atau metode berupa arahan yang digunakan oleh pihak komunikator dalam hal ini Bidan Desa dan Dukun Bayi di Desa Pudaria Jaya yang mempunyai tujuan untuk menginformasikan tentang kesehatan bagi ibu-ibu hamil yang ada di desa tersebut.
Seperti halnya yang dijelaskan oleh Hadijah dalam wawancaranya:
“Di posyandu Desa Pudaria Jaya, ada poster yang dibuat untuk menginformasikan tentang adanya pelayanan kesehatan berupa Imunisasi polio dan campak bagi bayi baru lahir, ini dipajang biar orang-orang pada tau kalu bayi baru lahir harus di suntik paksin  untuk kekebalan penyakit (wawancara maret 2012).

Pelaksanaan komunikasi informatif dalam hal ini dilakukan oleh aparat kesehatan yang membuat informasi melalui media agar dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat akan adaya pelayanan imunisasi bagi para bayi di desa tersebut.
Selain itu, hasil wawancara yang dijelaskan oleh ibu Arini mengenai komunikasi informatif yang dilakukan Dukun Bayi adalah:
“Dukun Bayi selalu menyampaikan bahwa dirinya siap dipanggil kapan saja baik siang maupun tengah malam apabila tenaganya memang sedang dibutuhkan untuk  menangani persalinan, ataupun menangani masalah-masalah seputar keluhan kehamilan, hal ini biasa disampaikan dukun bayi pada saat melayani ibu hamil yang sedang berkonsultasi kepadanya.(wawancara maret 2012).

Kehidupan di pedesaan biasanya membuat seseorang tidak terlalu memperhatikan bagaimana menjaga kesehatannya dengan semaksimal mungkin agar kesehatan ibu hamil tidak mudah terganggu. Ketergantungan orang-orang pedesaan terhadap Dukun Bayi sudah menjadi kebiasaan turun temurun yang memang tidak bisa diubah lagi.
Namun seiring dengan perkembangan zaman sekarang ini, bidan dan  dukun dituntut untuk lebih aktif dalam memberikan informasi-informasi mengenai pelayanan kesehatan dan cara terbaik untuk meningkatkan dan menjaga ibu hamil dan calon bayinya. Komunikasi informatif dianggap paling efektif dalam hal penyampaian informasi tentang pelayanan kesehatan, sebab melalui informasi kita dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman secara cepat, kepada mereka yang membutuhkan informasi tersebut.

4.2.2.      Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif adalah adalah suatu bentuk atau metode berupa bujukan, ajakan yang digunakan bidan  dan dukun bayi untuk mempengaruhi pasiennya (ibu hamil) dengan jalan membujuk, mengajak atau merayu dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat atau prilaku ibu hamil mengenai kebiasaan-kebiasaan sehari-harinya. Penerapan bentuk kounikasi persuasif tersebut tidak terlalu banyak berfikir kritis bagi pasiennya karena komunikasi persuasif ini ibu hamil dibujuk untuk mengubah sikap, pendapat,atau prilaku mereka dan kebiasaan yang sering dilakukan oleh ibu hamil yang dapat mengganggu kesehatannya dan calon bayinya.
Bentuk komunikasi persuasif terlebih dahulu harus menciptakan situasi komunikasi yang mudah terkena sugesti agar tujuan komunikasi persuasif dapat tercapai maka perlu adanya perencanaan yang matang berdasarkan komponen-komponen yaitu komunikator, pesan, komunikan yang mengharapkan adanya perubahan sikap, pendapat ataupun prilaku. Seorang bidan dan Dukun harus mempersiapkan sikap, maupun pendapat secara matang agar pesan yang ingin disampaikan dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang inggin dicapai.
Seperti yang dijelaskan oleh Irmayanti dalam wawancaranya:
“ada juga pasien yang kadang-kadang tidak mau untuk melakukan pemeriksaan. Mereka biasanya takut dengan alat-alat yang kami gunakan. Tetapi kami terus membujuknya untuk ikut diperiksa karena untuk kebaikannya juga. Kami mengarahkan kepada ibu itu, dan terus membujuknya sampai ibu tersebut bersedia karena kami juga terus menjelaskan apa saja mamfaat yang akan didapatnya dari pemeriksaan ini. (wawancara maret 2012).

Bidan Desa terlebih dahulu haruslah mengetahui bagaimana ataupun apa-apa saja kebiasaan yang sering dilakukan oleh para ibu hamil yang seharusnya tidak dilakukannya. Oleh karena itu, bidan desa tersebut akan melakukan interaksi dengan si ibu hamil agar dapat memperoleh informasi akan segala sesuatu yang akan diketahuinya.
Berbeda halnya komunikasi persuasif yang dilakukan oleh Dukun Bayi kepada ibu hamil, seperti yang dikatakan oleh Ruminah dalam wawancaranya:
“ Jika ada pasien yang mengalami masa kehamilan perdana, biasanya masih sangat malu-malu mereka enggan berkonsultasi dalam pemeriksaan posisi janin, karena pada dasarnya mereka tidak pernah diurut-urut dibagian perut yang bisa menimbulkan rasa geli,  kemudian saya berusaha membujuk pasien itu dan menjelaskan metode yang akan saya lakukan dalam pemeriksaan atau perbaikan posisi janin, agar pada saat kelahiran, ibu hamil tidak mengalami kesulitan yang berarti yang bisa membahayakan nyawa keduanya. (wawancara maret 2012).

Komunikasi melalui interaksi secara langsung yang dilakukan bidan desa dan dukun bayi kepada ibu hamil tentunya dapat memberikan informasi yang mendalam akan apa-apa saja yang ingin diketahuinya. Prilaku Bidan Desa dan Dukun Bayi dalam hal pengambilan informasi ini, juga menggunakan bentuk komunikasi persuasif karena bidan dan dukun bayi melakukan ajakan ataupun  bujukan kepada ibu hamil untuk mau menceritakan segala keluhannya agar tidak ada yang ditutup-tutupi karena tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Irmayanti menjelaskan kembali:
“Setelah ibu-ibu dapat kami bujuk untuk melakukn pemeriksaan,mereka mengatakan mendapatkan mamfaat yang baik akan pelayanan kesehatan kami, sehingga mereka menjadi rutin untuk memeriksakan kesehatannya. Hal ini sangat membantu kami karena kami tidak perlu lagi memberikan pengertian secara lebih lanjut”(wawancara maret 2012).
                        Bentuk komunikasi persuasif sangatlah dibutuhkan oleh bidan desa, dukun bayi dalam hal pengetahuannya akan keadaan pasiennya dan juga untuk si ibu hamil agar dapat memperoleh pelayanan yang lebih intensif sehingga tujuan yang diharapkan akan adanya kondisi yang sehat terhadap ibu dan bayi dapat terpenuhi.
                        Untuk aturan dan program yang  dianjurkan oleh bidan desa ataupun dukun bayi pada ibu hamil di Desa Pudaria Jaya adalah:
Oleh bidan desa:
1.      Ibu hamil harus melakukan pemeriksaan kehamilanya secara rutin
2.      Ibu hamil dianjurkan untuk memakan makanan yang bergizi
3.      Ibu hamil dianjurkan untuk istirahat yang teratur
Oleh dukun bayi:
1.      Ibu hamil harus memeriksakan posisi janin yang ada dalam kandungannya selama masa kehamilan.
2.      Ibu hamil harus memakan makanan yang bergisi dan cukup istirahat
3.      Ibu hamil harus menghindari pantangan  makanan dan prilaku yang menurutnya tidak boleh dilanggar selama masa kehamilan.
Gambar 1 : Wawancara peneliti dengan Bidan Irmayanti(Informan peneliti)
Bidan desa dan dukun bayi sangat memperhatikan segala sesuatunya yang sangat mempengaruhi akan pelayanan kesehatan yang akan dilakukannya untuk para ibu hamil. Oleh karena itu bidan dan dukun bayi sangat mengharapkan sikap keterbukaan dari para pasienya yang akan sangat membantu dalam hal pemberian pesan-pesan pengobatan ataupun tindakan-tindakan yang akan dilakukan selanjutnya terhadap pasiennya (ibu hamil)
Komunikasi persuasif juga digunakan bidan dan dukun  untuk mensosialisasikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ibu hamil baik itu sebelum bahkan sesudah melahirkan. Sosialisasi tersebut biasanya berupa penggunaan alat kontrasepsi bagi ibu hamil, pelayanan kandungan selama masa kehamilan ataupun intensitas dalam melakukan pemeriksaan kandungan. Berbagai macam alat kontrasepsi yang biasanya ditwarkan oleh bidan desa kepada masyarakat adalah KB suntik,Pil KB/Kontrasepsi Pil, Spiral/IUD ataupun Kondom.
4.2.3.      Komunikasi Koersif
Komunikasi koersip adalah suatu bentuk atau metode yang berupa sanksi yang diberikan oleh pihak komunikator terhadap komunikan apabila melanggar atau tidak mematuhi aturan yang telah disampaikan. Pada komunikasi koersif ini, diterapkan pada beberapa program pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh bidan dan dukun.
Pengunaan bentuk komunikasi koersif ini digunakan pada kondisi tertentu yaitu pada saat ibu hamil tidak menghiraukan himbauan ataupun nasihat-nasihat yang telah diberikan sebelumnya oleh bidan ataupun dukun. Adanya kesalahan yang terjadi, baik itu terganggunya kesehatan ibu hamil ataupun kelainan yang terjadi pada sicalon bayi merupakan kendala yang menimbulkan keputusan dari bidan dan dukun untuk menggunakan bentuk komunikasi koersif. Bentuk komunikasi koersif sangatlah jarang digunakan oleh bidan maupun dukun, adanya kesadaran yang ditunjukan oleh pasiennya dalam hal ini ibu hamil, menjadikan teknik komunikasi koersif tidak terlalu diterapkan oleh bidan maupun dukun pada Desa Pudaria Jaya. Namun, sesekali juga,pasien memaksakan bidan untuk menggunakan teknik komunikasi koersif pada pasienya karena terjadi hal-hal yang membahayakan kesehatan ibu hamil.
Seperti yang dijelaskan oleh Irmayanti :
“Ibu hamil di pedesaan biasanya sangat kurang melibatkan bidan  pada saat melahirkan, sehingga  tidak jarang terjadi masalah/gangguan dalam persalinan,yang bisa membahayakan ibu dan calon bayinya. Hal seperti inilah yang harus membuat kami lebih tegas dalam memberikan pengertian dan pemahaman demi keselamatan ibu dan bayinya” (wawancara maret 2012).

            Adanya gangguan yang terjadi pada ibu hamil seperti inilah yang membuat bidan desa terkadang mengunakan teknik komunikasi koersif kepada pasienya agar mereka bisa lebih mengerti akan pentingnya pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh bidan di desa.
4.3.      Bentuk Komunikasi Pelayanan Kesehatan Bidan Desa Pudaria Jaya
a.      Pemeriksaan Rutin
Untuk pelayanan kesehatan kepada ibu hamil dan juga para bayi, telah dijadwalkan dilaksanakan melalui Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang dilaksanakan 1 bulan sekali. Setiap tanggal 9 pada tiap bulannya, para ibu hamil dan juga ibu-ibu yang telah melahirkan mendatangi posyandu untuk memeriksakan keadaan kesehatan ibu hamil,ataupun anak-anak balita. Melalui kegitan pemeriksaan inilah, terjadi komunikasi dan pertukaran informasi antara bidan Desa Pudaria Jaya dengan pasiennya dalam hal ini ibu hamil.
Irmayanti menjelaskan :
“pelayanan kesehatan yang kami lakukan biasanya melalui posyandu. Setiap bulannya diadakan posyandu pada tanggal 9, jadi pada saat inilah, para ibu-ibu hamil datang untuk memeriksakan kandungannya. Dari sinilah pelayanan kesehatan kami lakukan. Sehingga setiap keluhan dapat mereka sampaikan dan kami coba untuk membantunya”(wawancara maret 2012)

Pelayanan kesehatan yang dilakukan kepada ibu hamil kepada ibu hamil pada saat datang keposyandu adalah:
1.      Pemeriksaan rutin setiap bulannya  akan kesehatan ibu hamil
2.      Pemeriksaan rutin setiap bulnnya akan keadaan cabang bayi
3.      Pemberian vitamin kepada ibu hamil
4.      Pemberian imunisasi kepada para bayi
5.      Pemberian susu formula khusus untuk ibu hamil
6.      Pemberian susu formula untuk bayi
7.      Pemberian arahan-arahan ataupun nasihat kepada ibu hamil dan kepada ibu yang lainnya tentang kesehatan.
Pelayanan kesehatan juga tidak hanya dilakukan pada saat tanggal 9 setiap bulannya, jika ada pasien yang meminta bantuan ataupun sudah mencapai waktunya untuk melahirkan, maka bidan desa akan melakukan tugasya  sebagai mana  mestinya.
b.      Pemberian Vitamin
Pemberian vitamin biasanya dilakukan untuk para ibu hamil. Kegiatan ini dilakukan juga pada saat pemeriksaan rutin. Bidan Desa  Pudaria dalam melaksanakan pemeriksaan rutin biasanya juga memberikan vitamin untuk pencegahan penyakit.
Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh bidan Desa Pudaria dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan dan program-progran yang telah disusun dan diatur sesuai dengan kebutuhan para pasiennya. Dalam hal ini bidan desa telah membuat jadwal pemeriksaan yang telah disepakati  bersama-sama dengan masyarakat Desa Pudaria Jaya sebelumnya.
Kegiatan yang dilakukan ini,juga tidak lepas dari aspek komunikasi dimana dalam pemberian vitamin ini, bidan desa memberikan informasi tentang vitamin apa yang digunakan untuk ibu hamil serta bagaimana mamfaatnya untuk kesehatan ibu hamil.
c.       Pemberian Imunisasi
Pemberian imunisasi yang dilakukan oleh Bidan Desa, juga dilakukan pada saat pemeriksaan rutin setiap bulannya. Imunisasi yang diberikan biasanya berupa suntikan. Suntikan yang diberikan ini disesuaikan dengan kebutuhan. Imunisasi ini dibedakan untuk ibu hamil dan bayi.
Bidan Desa Pudaria memberikan imunisasi/suntikan agar dapat memberikan asupan vitamin untuk ibu hamil dan bayinya. Bidan desa sudah mengetahui apa saja yang harus diberikan setiap bulannya serta takaran imunisasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dalam kegiatan komunikasinya, pemberian imunisasi juga terdapat bentuk komunikasi secara langsung yaitu komunikasi persuasif karena bidan desa memberikan pengetahuan serta informasi akan imunisasi yang diberikan.
d.      Pemberian Susu Formula
Pemberian susu formula sangat membantu dalam perkembangan kesehatan ibu hamil dan bayi. Biasanya dalam pemberian susu formula ini, dikhususkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Susu formula yang akan disediakan ini, adalah bantuan dari pemerintah  daerah setempat.
Kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh bidan desa Pudaria Jaya dalam pemberian susu formula ini, terlebih dahulu bidan desa menjelaskan tentang pentingnya susu formula untuk kebutuhan kesehatan akan ibu hamil dan bayi.
e.       Pemberian Arahan dan Nasehat
Beberapa bentuk sosialisasi yang dilakuakan oleh bidan Desa Pudaria Jaya kepada ibu hamil :
a.       Penggunaan alat kontrasepsi untuk ibu
Bidan Desa Pudaria Jaya mensosialisasikan tentang beberapa alat kontrasepsi yang dapat digunakan untuk ibu seperti:
·         KB Suntik
·         Pil KB/Kontrasepsi Pil
·         Spiral/IUD
·         Kondom
b.      Pelayanan kandungan selama masa kehamilan
Bidan Desa Pudaria Jaya mensosialisasikan tentang pelayanan kandungan yang harus dilakukan oleh ibu hamil seperti:
·         Melakukan pemeriksaan rutin
·         Menkonsumsi vitamin yang dibutuhkan untuk kesehatan tubuh dan calon bayi
·         Menjaga pola makan
·         Banyak minum air putih
·         Istirahat yang teratur
c.       Intensitas pemeriksaan
Untuk intensitas pemeriksaan, Bidan Desa menganjurkn untuk terus mengontrol keadaan ibu hamil setiap bulannya. Pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan desa lebih dititik beratkan pada perkembangan janin yang ada dalam kandungan, bagaimana posisi janin dan keluhan apa saja yang dirasakan oleh ibu hamil pada sat mengandung agar dapat diketahui dan diberikan obat.
Aspek komunikasi dari pemberian arahan dan nasihat dapat dilihat secara langsung yaitu dengan komunikasi secara langsung dan penjelasan-penjelasan akan pelayanan kesehatan dari bidan desa untuk kebutuhan masyarakat Desa Pudari Jaya.
Gambar 2 : pelayanan kesehatan pada pasien

Bentuk komunikasi yang digunakan dalam pemberian nasihat dan arahan adalah komunikasi persuasif yaitu pemberian arahan dan bujukan agar dapat merubah sikap dan prilaku masyarakat kearah yang lebih baik.
4.4.      Bentuk Komunikasi Pelayanan Kesehatan Dukun Bayi bagi Ibu Hamil

a.      Pemeriksaan rutin

Upaya meningkatkan pelayanan  kesehatan masyarakat, khususnya pemeriksaan kesehatan terhadap ibu hamil yang dilakukan dukun bayi pada desa pudarai  Jaya, dukun bayi melakukan pemeriksaan dengan cara yang bersifat kekeluargaan. Dukun bayi melakukan pemeriksaan serta memberi perawatan pada ibu hamil dimulai dari masa kehamilan, persalinan, maupun pasca persalinan  sesuai dengan tradisinya  yang dilakukan secara turun temurun. Dalam melakukan pemeriksaan kehamilan, biasanya dukun bayi melakukan pemeriksaan kehamilan dengan mendatangi ibu-ibu hamil dari rumah-kerumah, hal ini dilakukan sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh para suami dari para ibu hamil.
Umumnya perempuan yang mengandung, sejak mengidam sampai melahirkan selalu berkonsultasi kepada dukun bersalin. Pemeriksaan kehamilan pada ibu hamil dilakukan mulai usia kandungan 2 atau 3 bulan dan pada kandungan 6 bulan dan seterusnya, kontrol dilakukan lebih sering, dukun bersalin menjaga jika ada gangguan, baik fisik maupun nonfisik terhadap ibu dan janinnya. Dukun bayi biasanya melakukan perbaikan posisi janin dalam kandungan dengan cara meraba dan memutarnya (diurut-urut) disertai do’a agar bai lahir normal.
Seperti yang dijelaskan oleh dukun Ruminah :

“biasanya saya memeriksa ibu hamil secara rutin, apalagi kalau usia kandungannya udah 6 bulan keatas saya harus rajin periksa, biar nanti bayi yang ada dalam kandunganya posisinya ngak sungsang, makanya harus diperbaiki dengan diurut-urut biar nanti tidak mengalami kesulitan pada saat melahirkan.(wawancara maret 2012).

Pemeriksaan yang dilakukan dukun bayi umumnya dilakukan dengan indra raba atau palpasi. Pasien yang akan diperiksa kandungannya dibaringkan dengan posisi terlentang. Dalam posisi demikian, perut bayi dioleskan minyak gosok secara merata. Setelah itu dukun bayi memegang perut ibu hamil mulai dari perut bagian bawah menuju atas dan bagian samping kiri dan kanan, dengan maksud agar janin yang ada dalam kandungan menempati posisi yang bagus dan benar.
Hal senada juga dikatakan oleh Nurjana,bahwa :
“Mulai umur 3 bulan saya sudah berkonsultasi sama bidan. Kalau usia kandungan sudah 3 bulan  itu budukun saya suruh periksa perutku biar kita tau bagaimana posisi kandungan karena kadang-kadang posisi kandungan itu posisinya kejepit atau turun sehingga ada terasa sakit, jadi itu harus cepat diperbaiki sama dukun biasanya dengan cara di urut sambil baca do’a-do’a. (wawancara maret 2012).

            Hasil wawancara diatas menunjukan bahwa seorang dukun bayi selain mampu mengatasi masalah yang dialami oleh ibu hamil, dukun bayi juga sangat memperhatikan kesehatan janin,agar janin tetap dapat bertahan hidup dalam kandungan dan lahir dalam keadaan selamat.
b.      Pemberian sugesti
Dukun bayi merupakan pelayan kesehatan bagi ibu hamil yang sudah dipercaya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi, sehingga  setiap tindakan dan arahan yang dilakukan dukun bayi merupakan suatu keharusan yang pantang untuk dilanggar oleh setiap pasienya, ibu hamil selalu diberikan sugesti/anjuran berupa arahan,nasihat ataupun larangan yang harus dituruti selama masa kehamilan hingga pasca melahirkan.
Biasanya dukun bayi menyarankan kepada ibu hamil untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat dan harus banyak istirahat serta tidak memikirkan sesuatu hal yang membuat kondisi kesehatannya menurun selama masa kehamilan khususnya pada saat usia kandungan masih terbilang muda. Apabila seorang ibu yang hamil muda banyak bekerja dan menimbulkan capek serta stress akibat banyak berfikir akan berakibat fatal terhadap janin yang dikandungnya, dalam hal ini ibu hamil akan mengalami keguguran/kehilangan bayi yang dikandungnya.
Sebagai mana yang dituturkan oleh ibu Yuyun bahwa :
“Waktu usia kanduangan saya masih berumur 3 bulan saya dilarang sama dukun angkat yang berat-berat, jangan kerja sampai capek dan dilarang naik motor, apalagi dijalan yang berlubang karena bisa mengakibatkan keguguran karena usia kandungan yang masih muda sangat rentang dengan guncangan.(wawancara maret2012).

Hasil wawancara diatas, menunjukan bahwa dukun bayi memberikan nasihat-nasihat tentang apa yang sebaikya dilakukan dan dihindari oleh ibu hamil selama masa kehamilanya. Hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan ibu hamil adalah menjaga kondisi kesehatan tubuh serta memenuhi kebutuhan gizi baik untuk dirinya maupun untuk janin. Selain itu ibu hamil dilarang berdiri didepan pintu karena dukun bayi percaya, jika hal tersebut dilakukan maka ibu hamil akan kesulitan dalam melakukan persalinan, selain itu ibu hamil/suami dilarang melilitkan handuk dileher karena dipercaya tali pusar bayi akan melilit dilehernya pula, selama masa kehamilannya ibu hamil dilarang memakan tebu karena akan membuat jalan lahir menjadi pedis dan mengeluarkan banyak air,  serta selama masa kehamilan ibu hamil maupun suami dilarang membunuh/menyakiti binatang agar anak yang lahir kelak tidak mengalami cacat fisik.
Seperti yang dijelaskan oleh ibu Tiara bahwa :
“Sewaktu saya hamil saya selalu dianjurkan untuk tidak  melakuakan hal-hal yang dilarang oleh dukun karena saya percaya bahwa apa yang dikatakan oleh dukun itu memang harus benar-benar dituruti, karena saya takut jika hal itu dilanggar maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kelahiran dan bayi saya.(wawancara maret 2012).

Hasil wawancara diatas, menunjukan bahwa dukun bayi selalu memberikan sugesti/anjuran tentang apa yang seharusnya dihindari pada masa kehamilannya. Karena hal tersebut merupakan  suatu kepercayaan yang diyakini oleh dukun bayi secara turun-temurun. Pemberian sugesti yang dilakukan dukun bayi kepada ibu hamil bukan saja pada saat kehamilan, melainkan pasca kelahiranpun dukun bayi selalu memberikan anjuran kepada ibu dan bayinya, hal tersebut dilakukan karena rentang waktu pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dukun bayi lebih lama, sehingga dukun bayi diaggap pelayan kesehatan yang paling dekat dengan keluarga.
Dukun bayi adalah seseorang yang memiliki pengalaman yang cukup lama mengenai masalah pelayanan kesehatan bagi ibu hamil sehingga dukun bayi sangat mengerti tentang segala masalah kehamilan. Setelah usia kandungan berumur 6 bulan keatas dukun bayi menganjurkan agar ibu hamil melakukan bekerja atau banyak bergerak, dan mengurangi waktu tidur disiang hari hal tersebut dilakukan untuk mempermudah/memperlancar  persalinan, namun disaat kandungan ibu hamil berusia 8 bulan ibu hami dianjurkan untuk tidak banyak bekerja, karena diusia ini dukun bayi percaya bahwa kandungan akan kembali muda dan rentang terhadap guncangan.

Sebagai mana yang di ungkapkann oleh Wahyuni  bahwa :
“ sewaktu usia kandungan saya sudah enam bulan, ibu dukun menyarankan untuk tidak selalu sering tidur disiang hari, dan sebaiknya waktu siang digunakan untuk bekerja saja supaya nanti saat persalinan kita menjadi siap fisik dan mental, tetapi sewaktu kandungan berumur delapan bulan saya di suruh untuk tidak kerja berat karena umur delapan bulan bayi saya kembali muda lagi. Jadi saya selalu nurut apa kata dukun biar nanti bisa melahirkan selamat.(wawancara maret 2012).

Dari kutipan wawancara diatas, dapat memberikan gambaran bahwa ibu hamil selalu menerima dan menuruti sugesti yang disampaikan oleh dukun, karena mereka meyakini  bahwa dukun adalah orang yang sangat berpengalaman dalam pelayanan kesehatan ibu hamil. Pemberian sugesti tersebut berlangsung sampai pada masa persalinan, agar ibu dan bayinya lahir dengan keadaan selamat.
c.       Pelayanan  persalinan
Umumnya kelahiran bayi terjadi pada usia kandungan kurang lebih 9 bulan 10 hari. Ketika ibu hamil merasa sakit, maka dukun bayi mulai mepersiapkan diri untuk menangani pasiennya. Dukun bersalin selalu memberi dorongan, semangat, dan motifasi kepada ibu hamil agar tetap kuat dan tegar menghadapi saat-saat kelahiran bayinya. Dukun berusaha menenangkan ibu yang kesakitan dengan cara mengusap-usap pinggul dan perut ibu hamil.
Menurut dukun bersalin yang ada di Desa Pudaria Jaya, seorang ibu hamil yang melahirkan anak ganjil (1,3,5,7 dan seterusnya) akan mengalami kesulitan dan merasa kesakitan yang berlebihan saat melahirkan, sebaliknya ibu yang melahirkan anak genap (2,4,6,8 dan seterusnya) akan biasa-biasa saja tidak seperti pada saat melahirkan anak ganjil. Begitu pula dengan persalinan anak perempuan dan laki-laki juga terdapat perbedaan, dimana perempuan lebih susah dan lebih lama sakitnya dibanding anak laki-laki. Menurut dukun bayi hal ini disebabkan karena anak perempuan lebih lama mempersiapkan diri untuk lahir, sedangkan anak laki-laki cepat dalam mempersiapkan diri.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Tutik yang mempunyai dua orang anak bahwa :
“Saat pertama melahirkan, saya merasakan sakit yang luar biasa pada waktu itu anak pertama saya adalah perempuan sehingga saya mengalami kesakitan selama dua hari satu malam, tetapi waktu melahirkn anak saya yang kedua, saya merasakan sakit tetapi hanya hitungan jam saja dan setelah itu bayi saya sudah lahir”.(wawancara maret 2012).

Dalam upaya pelayanan persalinan, dukun bayi berusaha membantu mengeluarkan bayi dan membantu mendorong bayi dari atas menuju kebawah perut dengan berlahan, sehingga memudahkan ibu melahirkan bayinya. Setelah bayi lahir, dukun bayi meletakan bayi diatas sarung, kemudian dukun berusaha mengeluarkan ari-ari(placenta) dengan cara memegang tali pusar bayi kemudian menekan (pijit) perlahan perut ibu yang melahirkan disertai do’a agar memudahkan placenta keluar. Setelah bayi dan ari-ari (placenta) keluar, maka dukun bayi menganjurkan ibu untuk beristirahat total
Gambar 3. Wawancara peneliti dengan dukun bayi Ibu Ruminah

Setelah beberapa saat melewati pesalinan, dukun akan  akan memandikan ibu tersebut dengan air panas sekaligus mengurutnya. Pengurutan tersebut dilakukan terutama pada bagian perut dengan maksud agar darah kotor yang masih tinggal dalam perut bisa keluar. Karena apa bila darah kotor tersebut tidak dikeluarkan, maka akan mengakibatkan timbulnya penyakit kangker pada kandungan akibat darah masih menggumpal .
Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh ruminah bahwa :
     “Ibu dan bayi akan dimandikan 4 (empat) jam kemudian setelah persalinan. Apabila ibu dan bayi dimandikan seusai proses persalinan akan berakibat fatal baik pada ibu maupun pada anak. Akibatnya terhadap bayi, kulit bayi akan berwarna kekuning-kuningan, dan pada ibu akan mengakibatkan ibu tersebut akan mengalami pendarahan hebat karena  darah mencair setelah persalinan. Ibu yang selesai melahirkan dibersihkan dari darah kotornya kemudian perutnya diikatkan gurita. 4 (empat) jam kemudian dimandikan dengan air panas. Seusai mandi, ibu tersebut ibu tersebut diharuskan memakai tali/ikat pinggang agar kandungannya tetap pada posisinya semula karena kandungan orang yang baru melahirkan itu licin”.(wawancara maret 2012).

Hasil wawancara diatas menunjukan bahwa ibu yang baru melahirkan dan bayi yang baru lahir tidak baik jika seusai persalinan langsung dimandikan, hal tersebut dapat berakibat fatal baik terhadap ibu maupun terhadap bayi. Setelah menangani persalinan dukun bayi tidak hanya sekedar memandikan ibu dan bayi tetapi juga memandikan sambil mengurut ibu yang baru melahirkan dengan maksud agar urat-urat yang putus akibat persalinan dapat tersambung kembali.
Pelayanan persalinan yang dilakukan dukun bayi sangatlah memanjakan pasiennya, hal ini dilakukan karena antara dukun dan ibu hamil telah terjalin hubungan keakraban yang sangat kekeluargaan mulai dari masa mengidam, kehamilan, persalinan sampai perawatan ibu dan bayi. Pelayanan dukun bayi dalam penanganan persalinan dilakukan secara intensif selama tali pusar yang ada pada perut bayi belum terlepas, selama itu pula dukun bayi harus memandikan bayi secara rutin dilakukan pagi dan sore.
 Dukun bukan saja memandikan ibu dan bayinya, tetapi dukun bayi pada Desa Pudaria Jaya terbiasa  mencucikan pakaian atau sarung yang digunakan pada saat persalianan, pekerjaan tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa ada rasa enggan ataupun jijik untuk melakukannya.
Seperti yang dijelaskan oleh Sundari dalam wawancaranya bahwa :
    “ Sewaktu saya melahirkan bayinya dimandikan sama dukun sampai beberapa hari, selama tali pusarnya belum lepas selama itu juga dukunnya yang mandikan. Bukan hanya itu aja, tapi semua kain, sarung, tikar pokoknya yang kena darah melahirkan itu bu dukun yang cucikan. (wawancara maret 2012).

Dari wawancara di atas proses persalinan yang dilakukan dukun sangatlah intensif, dengan mengedepankan pelayanan kesehatan dalam bentuk kekeluargaan dukun bayi selalu memberikan kenyamanan bagi setiap pasiennya. Sehingga tidak jarang dukun bayi selalu dipilih oleh ibu hamil dalam pelayanan persalinan ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang modern.
4.2.      Analisis Pembahasan
           Berikut ini penulis akan menganalisa dan membahas informasi dan data yang diperoleh dalam penelitian dan akan memberikan gambaran menyangkut komunikasi Bidan Desa dan Dukun Bayi dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil pada Desa Pudaria Jaya Kecamatan Moramo.
Dalam penelitian ini, data diperoleh dari observasi yaitu dengan cara mengamati, pengamatan langsung terhadap komunikasi bidan desa dan dukun bayi pada Desa Pudaria Jaya dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Selain itu, data-data juga diperoleh dengan cara intervew langsung terhadap informan yang memberikan keterangan sesuai dengan tugas yang telah mereka lakukan di Desa Pudaria Jaya. Dukun bayi dan bidan desa Pudaria telah menjelaskan secara garis besar teknik-teknik komunikasi yang mereka lakukan dalam kegiatan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil pada Desa Pudaria Jaya. Berikut ini, analisa mengenai komunikasi bidan desa dan dukun bayi pada Desa Pudaria Jaya dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil.
            Pada beberapa teknik komunikasi yang dilakukan bidan dan dukun bayi  dalam pelayanan kesehatan yang dilakukannya terdapat tiga teknik komunikasi yang digunakan yaitu:
1.    Teknik komunikasi yang bersifat informatif/arahan
2.    Teknik komunkasi yang bersifat persuasif/bujukan
3.    Teknik komunikasi yang bersifat koersif/paksaan
Memilih cara mana yang kita ambil untuk berkomunikasi sangatlah penting, karena ada kaitannya dengan media yang kita gunakan. Cara bagaimana kita berkomunikasi (how to communicate), kita bisa mengambil salah satu dari dua jenis komunikasi berdasarkan sifatnya :
·      Komunikasi tatap muka (face to face communication), yang dipergunakan apabila kita mengharapkan efek perubahan tingkah laku (behavior change) dari komunikan, karena kita sewaktu berkomunikasi memerlukan umpan balik langsung (immediate feedback). Dengan saling melihat, kita sebagai komunikator bisa mengetahui pada saat kita berkomunikasi, apakah komunikan memperhatikan kita dan mengerti apa yang kita komunikasikan.
·      Komunikasi bermedia (mediated communication), pada umumnya banyak digunakan untuk berkomunikasi informatif karena tidak begitu ampuh untuk mengubah tingkah laku. Kelemahan komunikasi bermedia adalah tidak persuasif, komunikan yang dapat diubah tingkah lakunya relatif hanya sedikit saja, dan sebaliknya kekuatannya dapat mencapai komunikannya.
Komunikasi informatif adalah jenis komunikasi yang bertujuan memberikan informasi atau penjelasan. Isi informasi itu sendiri bisa bersifat pemaparan tentang suatu pandangan tertentu.
Ada tiga hal yang harus diperhatiakan agar komunikasi informatif ini dapat berasil yaitu :
a)    Menarik perhatian;
b)   Mengusahakan agar komunikan bersedia menerima isi pesan;
c)    Komunikan bersedia menyimpan isi pesan
Dalam penyampaian komunikasi informatif ini, sangat berperanpenting dalam kegiatan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh bidan desa dan dukun bayi karena informasi-informasi yang akan diberikan kepada masyarakat adalah suatu hal yang baru dan mungkin belum dapat dipahami oleh masyarakat tersebut. Oleh karena itu, dalam proses penyampaiannya, seorang komunikator harus lebih memahami   tentang informasi ataupun pesan yang akan disampaikan sehingga jika ada pertanyaan-pertanyaan  mengenai informasi yang diberikan sebelumnya, dapat dijelaskan kembali sesuai dengan  kebutuhan komunikannya.
       Berangkat dari paradigma Laswell, Efendy (1994:11) membedakan proses komunikasi menjadi dua tahap, yaitu:
1.    Proses komunikasi primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (syimbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah pesan verbal (bahasa), dan pesan non verbal (kial/gesture, isyarat,gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara langsung dapat/mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Seperti disinggung dimuka, komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain komunikan adalah proses membuat pesan yang setara bagi komunikator dan komunikan. Prosesnya sebagai berikut, pertama-tama komunikator menjadi (encode) pesan yang akan disampaikan kepada komunikan. Ini berarti komunikator memformulasikan pikiran dan perasaannya kedalam lambang (bahasa) yang diperkirakan akan dimengerti oleh  komunikan. Kemudian giliran komunikan untuk menterjemahkan (decode) pesan dari komunikator. Ini berarti ia menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertian. Yang penting dalam proses penyandian (coding) adalah komunikator dapat menyandi dan komunikan dapat menerjemahkan sandi tersebut (terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni panduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang diperoleh oleh komunikan. Schram menambahkan, bahwa bidang (field of experience) merupakan faktor penting juga dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan belangsung lancar. Sebaliknya, bila bidang pengalaman komunikan tidak sama dengan bidng pengalaman komunikator ,akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain.
2.    Proses Komunikasi Sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media ke dua dalam penyampaian komunikasi karena komunikan sebagai sasaran berada ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, surat kabar, majalah,radio.televisi,film adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi  secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa (surat kabar,televisi,radio, dsb) dan media nonmassa (telepon, surat, megapon,dsb).
            Komunikasi informatif adalah suatu pesan kepada seseorang atau sejumlah orang tentang  hal-hal baru yang diketahuinya. Teknik ini berdampak kognitif, pasalnya komunikan hanya sebatas mengetahui saja. Seperti halnya dalam penyampaian berita dalam media cetak maupun elektronik, pada teknik informatif ini berlaku umum, mediannya menimbulkan keserempakan, serta komunikasinya heterogen. Biasanya teknik informatif yang digunakan oleh media bersifat asosiasi, yaitu dengan cara menumpangkan penyajian pesan pada objek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak. Kendatipun demikian teknik informatif ini dapat pula berlaku pada seseorang, seperti halnya kajian ilmu yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa, namun bersifat relative. Pasalnya pada kajian ilmu tertentu, sedikit banyak telah diketahui oleh mahasiswanya.
Dalam teknik komuniksi persuasif, adanya kepercayaan dari komunikan kepada komuniktor merupakan suatu penentu akan keberhasilan dari teknik komunikasi persuasif. Komunikan berharap memiliki kepercayaan tertentu yang benar, karena kita memandang hubungan antara kpercayaan antara komunikator dan komunikan dapat memotivasi untuk berhasilnya teknik komunikasi persuasif ini.
Beberapa faktor yang mempengaruhi teknik komunikasi persuasif :
1.    Tujuan
Sebagai pilihan kita sendiri atau sebagai akibat tekanan-tekanan sosial atau kawan-kawan, kita semua mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapai. Arah atau tujuan kita mungkin berjangka pendek atau jangka panjang. Kita lebih berkeingginan untuk mempercayai apa saja yang bisa menolong untuk membuat kemajuan demi pencapaian tujuan kita.
2.    Nilai
Ketika kepercayaan menjadi suatu abstraksi ideal mengenai “ bagaimana sebetulnya seseorang berprilaku atau mengenai peryataan akhir tentang mamfaat kehidupan atau hasil yang tidak menguntungkan”, kepercayaan berakhir karena dihimpit oleh beberapa sikap tertentu sehingga menjadi bagian dari sistem nilai individu. Bila berbicara secara luas, nilai-nilai kita mungkin bersifat sosial,politik, moral,ekonomi, agama dan lain-lain.
3.    Kebutuhan
Adanya kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki seseorang akan sesuatu hal seperti kebutuhan fisik,keamanan, kebutuhan sosial, ataupun kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Tahap-tahap penyampaian efektifitas komunikasi persuasip sama dengan komunikasi informatif, tetapi tujuannya lebih jauh lagi, yaitu mengajak komunikan untuk bertindak sesuai dengan isi pesan komunikator. Komunikan diberi pandangan-pandangan baru lalu diajak meneliti kembali kerangka acuan bertindak dan pola tingkah lakunya selama ini, dan akhirnya dibujuk untuk mngubah kerangka acuan dan pola bertindaknyaitu sesuai dengan yang dikehendaki komunikator.
            Komunikasi persuasif bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau prilaku komunikasi yang lebih menekankan sisi psikologis komunikasi. Penekanan ini dimaksudkan untuk mengubah sikap, pendapat, atau prilaku. Tetapi persuasi dilakukan dengan luwes, halus, yang mengandung sifat-sifat manusiawi sehingga mengakibatkan kesadaran dan kerelaan yang disertai perasaan senang. Agar komunikasi persuasif mencapai tujuan dan sasarannya, maka perlu dilakukan perencanaan yang matang dengan mempergunakan komponen-komponen ilmu komunikasi, yaitu: komunikator, pesan, media dan komunikan. Sehingga dapat terciptanya pikiran, perasaan dan hasil pengindraannya, terorganisasi secara mantap dan terpadu. Biasanya teknik ini efektif, komunikan bukan hanya sekedar tahu, tetapi tergerak hatinya dan menimbulkan perasaan tertentu.
            Teknik komunikasi koersif/paksaan sangatlah membantu dalam hal pelayanan kesehatan dimana melalui komunikasi koersif ini seorang komunikator akan lebih menuntut sikap yang baik akan komunikannya dalam hal perubahan sikap kearah yang lebih baik untuk kepentingan sendiri dalam hal ini untuk kepentingan kesehatannya. Namun, komunikasi koersif haruslah bisa ditempatkan pada saat-saat yang tepat sehingga tujuan yang ingin dicapai akan pelayanan yang diberikan dapat terpenuhi sesuai apa yang diharapkan.
Komunikasi koersif atau coersi communication adalah komunikasi berupa perintah, ancaman, sangsi dan lain-lain, yang bersifat paksaan. Sehingga orang-orang yang dijadikan sasaran (komunikan) melakukannya secara terpaksa. Biasanya teknik komunikasi seperti ini bersifat fear orousing, yaitu bersifat menakut-nakuti atau atau menggambarkan resiko yang buruk. Serta tidak luput dari sifat red-hering, yaitu interes atau muatan kepentingan untuk meraih kemenangan dalam suatu konflik. Perdebatan dengan menepis argumentasi yang lemah kemudian dijadikan untuk menyerang lawan. Bagi seorang diplomat atau tokoh politik teknik tersebut menjadi senjata andalan dan sangat diplomatis.
            Penelitian ini menunjukan bahwa komunikasi yang dilakukan bidan dan dan dukun bayi pada Desa Pudaria Jaya dalam pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil terdiri dari :
1.    Komunikasi informatif yang dilakukan bidan desa dalam pelayanan kesehatan adalah dengan penyampaian informasi melalui media, adapun media yang biasa digunakan yaitu media cetak, poster. Melalui poster inilah informasi disampaikan kepada masyarakat tentang segala informasi pelayanan kesehatan yang dilakukan bidan di desa. Berbeda halnya dengan dukun bayi, dalam penyampaian informasi yang dilakukan dukun bayi menggunakan komunikasi tatap muka(face to face communicate), melalui komunikasi secara langsung dukun akan leluasa  dapat menyampaikan segala informasi yang dibutuhkan oleh ibu hamil tentang pelayanan kesehatan yang diberikan.
2.    Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh bidan dan dukun bayi dalam upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah dengan melalui arahan-arahan kepada para pasiennya. Bidan dan dukun dalam melakukan pemeriksaan secara rutin kepada ibu hamil, juga memberikan arahan dan nasihat-nasihat yang dapat membantu ibu hamil dalam meningkatkan kesehatannya dan cabang bayinya. Dengan adanya komunikasi persuasif yang dilakukan oleh bidan desa dan dukun bayi, dapat membantu ibu hamil mendapatkan informasi yang belum mereka ketahui tentang sesuatu yang harus dilakukan ibu hamil dalam pelayanan kehamilan bagi dirinya maupun cabang bayinya.
3.    Komunikasi koersif yang dilakukan oleh bidan desa dan dukun bayi biasanya pada saat-saat tertentu seperti ketika ibu-ibu hamil tidak memperhatikan dengan baik kondisi kehamilannya sesuai yang disarankan sebelumnya oleh bidan maupun dukun bayi tersebut, maka bidan atau dukun akan memberikan teguran, bahkan perintah yang harus dilakukan ibu hamil dalam upaya menjaga kesehatan ibu dan bayinya.



















BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1              Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pada Bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.    Bentuk komunikasi yang dilakukan dukun bayi dan bidan Desa pudaria Jaya dalam pelayanan kesehatan kepada pasienya dalam hal ini, ibu hamil adalah dengan menggunakan bentuk komunikasi informatif, komunikasi persuasif/komunikasi langsung dan komunikasi koersif/aturan. Pada bentuk komunikasi informatif, bidan desa memberikan informasi melalui media seperti poster yang berisikan informasi tentang pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Dan untuk  dukun bayi komunikasi informatif,  dilakukan secara tatap muka/face to face atau disampaikan secara langsung kepada pasiennya hal ini dilakukan agar ibu hamil dapat mengerti dan bertanya langsung tentang pelayanan kesehatan yang akan dilakukan selanjutnya. Bentuk komunikasi persuasif bidan desa dan dukun bayi melakukan bujukan-bujukan ataupun ajakan untuk mempengaruhi komunikan/pasiennya dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat ataupun prilaku komunikan mengenai kebiasaan-kebiasaannya. Bentuk komunikasi koersif, dukun bayi dan bidan desa pudaria memberikan sanksi  terhadap komunikannya apabila melanggar atau tidak mematuhi nasihat yang telah diberikan.
2.    Bentuk komunikasi pelayanan kesehatan yang dilakukan dukun bayi dan bidan Desa Pudaria Jaya kepada pasiennya adalah pemeriksaan secara rutin setiap bulannya akan kesehatan ibu hamil, pemeriksaan rutin setiap bulannya akan keadaan kehamilan, posisi cabang bayi, pemberian vitamin kepada ibu hamil dan bayinya, pemberian imunisasi kepada para bayi, pemberian susu formula untuk ibu hamil dan susu formula kepada balita, pemberian arahan kepada ibu hamil, dan pemberian sugesti serta pelayanan persalinan yang dilakukan dukun bayi terhadap ibu hamil.
5.2 Saran
Hasil dari kesimpulan yang ditarik diatas, dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1.    Sebaiknya pelayanan kesehatan yang dilakukan dukun bayi dan bidan desa Pudaria Jaya berjalan secara bersama-sama, artinya antara bidan dan dukun bayi harus saling melibatkan dalam setiap pelayanannya serta antara dukun bayi dan bidan desa mau mengakui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing.
2.    Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan yang lebih baik, semestinya pemerintah desa setempat lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang akan menunjang kegiatan pelayanan kesehatan demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Pudaria Jaya.